Diberdayakan oleh Blogger.

Pesta Piala Dunia di Ambon

Minggu, 11 Juli 2010

JPNN.com, Ribuan orang tumpah-ruah di jalanan Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, 7 Juli lalu. Walau masih pagi buta, mereka tak sungkan menggeber motornya. Sebagian lainnya membunyikan petasan dan saling berteriak. Sebagian besar di antara mereka kompak mengenakan atribut tim nasional sepak bola Belanda yang didominasi warna oranye. Mereka juga mengarak bendera Belanda dengan berbagai ukuran.
Konvoi itu mereka lakukan untuk merayakan kesuksesan Belanda mengalahkan Uruguay dalam semifinal Piala Dunia 2010, sekaligus memastikan tempat di partai puncak even yang dilangsungkan di ujung selatan Benua Afrika tersebut. Suasana itu berkebalikan dengan ketika pertandingan masih berjalan. Jalanan di Kota Ambon lengang karena sebagian besar warga memusatkan perhatian di depan layar televisi di rumah masing-masing atau di rumah-rumah kopi (sebutan orang Ambon untuk kafe, Red) yang mengadakan acara nonton bareng.
Atmosfer dukungan kepada tim yang dilatih Bert van Marwijk itu memang sangat terasa di Ambon dan sekitarnya. Keluar dari Bandara Internasional Pattimura di daerah Laha, di pinggiran Ambon, tak jarang pandangan bertumbukan dengan Prinsevlag (nama bendera Belanda, Red) berwarna merah-putih-biru atau spanduk bergambar logo Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) yang dipasang di pinggir-pinggir jalan atau di atas genting rumah warga.
"Kami jahit sendiri bendera Belanda ini. Kami urunan beli kain," ucap Lucky Wattimena, warga Poka, sambil menunjuk bendera Belanda berukuran 2 x 4,5 meter yang berkibar di atas pangkalan ojek di belakang kampus Universitas Pattimura (Unpatti).
"Semua warga di sini mendukung Belanda. Setiap Belanda menang, kami pawai keliling," ucapnya.
Hampir di setiap perempatan Kota Ambon, warga menaikkan bendera Belanda beragam ukuran. Beberapa rumah juga terlihat mencolok dengan tembok bercat oranye, warna kebesaran timnas Belanda.
Sementara itu, di sejumlah toko pakaian, mendadak para pedagang ramai-ramai menjual jersey Belanda. Misalnya, yang terlihat di Ambon Plaza. Kostum palsu sampai yang katanya asli bertebaran di sana.
Kostum yang diklaim orisinal oleh pedagangnya itu dibanderol Rp 250 ribu"Rp 300 ribu. "Ini impor. Saya punya kostum beberapa tim favorit. Tapi, yang paling laris ya Belanda. Sekarang, kostum Belanda yang asli tinggal dua. Lainnya habis diborong," ujar Ismail Tualeka, salah seorang pedagang.
Orang Maluku memang sangat fanatis terhadap tim nasional Belanda. Lucky menyebutkan, setiap even sepak bola yang melibatkan Belanda seperti Piala Eropa maupun Piala Dunia, dukungan warga selalu meriah dan total.
Atmosfer dukungan kepada tim negara lain, tampaknya, tidak dijumpai di bagian lain Indonesia. Meski sama-sama pernah dijajah Belanda, rakyat Maluku merasa memiliki ikatan emosi lebih dalam dengan Negeri Kincir Angin itu.
Istilah "Belanda Hitam" untuk orang Maluku yang dipercaya sebagai kasta kelas dua dalam tentara KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) menjadi sebuah ikatan sejarah masa lalu. Setelah masa kolonialisme, sebagian di antara mereka akhirnya juga ikut ke Belanda dan menghasilkan keturunan Maluku di sana.
"Para simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS) yang kebanyakan kabur ke Belanda juga berpengaruh terhadap lahirnya fanatisme kepada timnas Belanda," terang Heygel Tengens, salah seorang tokoh bola di Maluku.
Ikatan itu pun terus terjaga sampai saat ini. Warga Maluku yang menetap di Belanda akhirnya juga memiliki keturunan yang menjadi pemain sepak bola. "Kebetulan, saya sering ke Belanda. Di sana, di setiap kota pasti ada komunitas Maluku," beber pria yang juga anggota Komisi Disiplin Pengprov PSSI Maluku tersebut.
Walau dianggap sangat berbau Belanda, menurut Heygel, itu hanya nilai olahraga semata yang bercampur dengan ikatan historis. Tak ada hubungan dengan politik atau lunturnya nasionalisme warga Maluku. "Inilah bentuk keajaiban olahraga yang mampu melampaui batas-batas seperti negara, agama, dan ras," ujarnya.
Pria yang juga fans berat tim Ajax Amsterdam itu menambahkan, salah satu nama yang dikenal sebagai pionir pemain berdarah Maluku di timnas Belanda adalah Simon Melkianus Tahamata. Pemain kelahiran Vught, Belanda, 26 Mei 1956, itu memperkuat timnas Belanda pada 1979"1986 dengan 22 caps dan dua gol. Nama lain yang cukup dikenal adalah Sony Silooy yang memperkuat Belanda dalam Piala 1994 di Amerika Serikat.
Dalam Piala Dunia kali ini, warga Maluku, tampaknya, merasa lebih memiliki tim sepak bola Belanda. Sebab, tim total football itu dikapteni pemain berdarah Maluku, Giovanni van Bronckhorst, yang membela Feyenoord Rotterdam.
Ibu pemain yang akrab disapa Gio itu bermarga Sapulette yang berasal dari Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Di antara semua pemain keturunan Maluku, Gio berhasil mencapai prestasi tertinggi dengan dipercaya menjadi kapten tim.
Berdasar laporan Ambon Ekspres (Jawa Pos Group), Juni tahun lalu, orang tua Gio, Bert van Bronckhorst dan Fransina Sapulette, sempat pulang kampung ke Saparua dan Ambon. Anaknya yang berumur 35 tahun itu sebenarnya diajak, tapi mendadak berhalangan.
Mungkin, baru setelah 25 Juli nanti Gio bisa menengok tanah leluhur ibunya. Itu adalah tanggal ketika dia melakukan laga testimonial (perpisahan) sebelum gantung sepatu alias pensiun dari timnas. Pertandingan tersebut akan mempertemukan Feyenoord melawan tim La Liga Real Mallorca.
Selain Gio, empat pemain Belanda lain dalam Piala Dunia Afsel juga memiliki darah Maluku. Yaitu, John Heitinga, Gregory van der Wiel, Nigel de Jong, dan Demy de Zeeuw. Sementara itu, Robin van Persie merupakan keturunan Jawa.
Di Maluku sebenarnya ada juga pendukung timnas negara lain. Mereka juga menaikkan bendera. Misalnya, pendukung Brazil, Jerman, dan Spanyol. Tapi, sifatnya hanya sporadis dan tidak fanatis seperti fans Belanda.
Dini hari nanti (12/7), sebagian besar warga Maluku pasti akan kembali memberikan dukungan untuk pasukan Oranje dalam final Piala Dunia melawan Spanyol. Kalau Belanda sukses mengalahkan Spanyol, itu akan menjadi sejarah baru.
Mereka menjadi juara setelah pada edisi 1974 dan 1978 hanya mampu menembus final Piala Dunia. Bagi penduduk Maluku, titel juara kali ini tentu lebih berkesan karena tim Belanda dipimpin seorang kapten berdarah Maluku.
Hal tersebut seakan memberikan garansi bahwa selebrasi warga Maluku bakal lebih heboh daripada sebelumnya. Kalau sudah begitu, polisi paling dipusingkan oleh aksi para suporter yang merayakan euforia. "Kami bekerja ekstra sejak Piala Dunia dimulai. Tapi, perhatian terbesar kami adalah saat Belanda tanding. Sebab, pasti dirayakan dengan pawai keliling kota," ujar Kasatlantas Polres Ambon AKP Marianus Djatti.
Sementara itu, Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam mengaku takjub atas besarnya dukungan warga Maluku untuk tim Oranje. Pekan lalu, ketika tengah transit dalam perjalanan ke Papua, dia melihat bendera merah-putih-biru di daerah Bandara Pattimura.
"Anda tahu, bendera itu mungkin lima kali lebih besar dibanding Prinsevlag yang kami pasang di kantor Kedutaan Besar Belanda," katanya disambung tawa, Jumat (9/7).
Nikolaos juga mendapat laporan dari stafnya bahwa suasana Ambon saat Belanda melawan Uruguay dalam semifinal tak berbeda dari suasana di Assen, Amsterdam, atau Eindhoven. "Semua penduduk tinggal di rumah waktu pertandingan, trem-trem kosong, dan sontak berubah menjadi pawai keliling kota ketika tim Belanda menang," katanya. (jpnn)

Comments :

0 komentar to “Pesta Piala Dunia di Ambon”